ig : @rentiseptianti.
π22/6/2017
Kamu! pernah menjadi
bagian hari-hariku. Walaupun awalnya aku tidak bermaksud untuk mencintaimu. Ya…
kamu tau benar aku hanya ingin memanfaatkanmu. Tapi dengan sabar kamu masih
berusaha untuk merebut hatiku dengan segala caramu.
Setiap malam, sebelum
tidur, selalu kamu mengungkapkan rasa sayangmu begitu besar untukku, meski aku
selalu mengacuhkan semua itu. Setiap pagi-siang-sore selalu kamu menghubungiku dan
mengucapkan kata yang sama. Entah apa dan kenapa, aku mulai luluh dan merasa “Aku
Mulai Mencintaimu”.π«
Lambat laun aku mulai
merasa takut, takut kehilangan kamu… aku sering memerhatikan semua hal tentang
kamu, kuhabiskan banyak waktu dengan kamu. Suara nyanyian & tawa kita masih
dengan jelas aku ingat, cerita-cerita tentang kamu yang tak pernah kamu
ceritakan pada siapapun, pada akhirnya aku tau. Aku bahagia menjadi orang yang
dipercaya untuk mendengar semua keluh kesah kehidupanmu.π©
Aku terlalu penasaran
ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Semua begitu
bahagia....
Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku
untukmu. Banyak janji dan hal yang sudah kamu rancang kedepan… Sayangnya, semua
hal itu tak ada yang kamu tepati! Saat aku berpikir untuk berhenti, kamu selalu
datang dan memohon untuk terus berjalan beriringan. Saat aku akhirnya memberi kesempatan,
namun akhirnya kamu melukai aku teramat dalam! Lagi…lagi… dan lagi…π
Bisakah kamu
bayangkan diposisi aku? Saat mereka menyalahkan aku akan hubungan
kita? Bisakah kamu menahan rasa amarah saat mereka jelas-jelas mencibirku
didepan dan dibelakangku? Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi aku yang setiap
hari menahan tangis agar tetap terlihat baik-baik saja?π
Aku selalu berusaha memberikan
apa maumu dan menepati janjiku… tapi kamu??? Coba ingat lagi
sayang, apa hal yang sudah kamu perjuangkan untuk menepati janjimu padaku?
Sayang…
Tak mungkin kamu tak
tahu ada perasaan aneh di dadaku. tak mungkin kamu tak memahami perjuangan yang
kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Aku hanya ingin
melihatmu bahagia.
Aku berharap kamu akan selalu seperti awal kamu memperjuangkanku,
nyatanya? Ah… sudahlah, mungkin salahku terlalu mencintaimu…
Dan sekarang… aku
rasa semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kejujuran.
Tak akan ada lagi jari kelingking yang saling berucap janji, tak akan ada lagi injakan
kaki sambil berpelukan, tak akan ada lagi kecupan mesra disemua wajah.
Sekarang…
Perjuanganku terhenti, karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu.
Sudah ada seseorang disampingmu. Tentu saja, dia prioritasmu. Jika bukan, kamu tak
akan memprioritaskan dia dibanding kehidupanmu.
Sayang…
Tak merasa
bersalahkah kamu? Setidak pedulinyakah kamu akan perasaanku? ini semua terasa
aneh bagiku. Kita yang dulu saling berjanji untuk selalu bersama & berjuang,
meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang
terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena
akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku
tak boleh lagi berharap terlalu jauh.
Sayang…
Walaupun sakit ini
begitu menusukku, tapi aku tetap meminta pada Tuhan, tentang kebahagiaanmu. Sungguh,
aku tak ingin kamu terluka seperti aku yang akhirnya kamu hempaskan. Sakit… sangat amat. Tak bisakah kamu meminta maaf dan membayangkan bagaimana
rasanya jadi aku? Setidaknya aku tidak akan merasakan sakitku tak sesakit ini.
Kalau kamu ingin tahu
bagaimana perasaanku, Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kamu paham? Belum.
Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu
tak punya tempat dalam hatimu. Dan aku….bukan prioritas kebahagiaanmu
Setiap aku melihatmu
dengannya, aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan
berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat
nanti pasti akan hilang dan tak ada lagi alasan tangisku setiap malam. Walaupun
banyak yang mendekatiku… Namun, aku masih tetap memikirkanmu. Sulit
bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih
pergi bersama yang lain.
Seandainya kamu bisa
membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah
hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Mungkin aku hanya persinggahan,
tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.
Semoga kamu tahu, aku
berjuang untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari,
ketika kulihat kamu bersama kekasihmu. Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi aku ???
Tak bisakah kamu bayangkan dan rasakan ada diposisi aku???
Selamat sayang… kamu berhasil membuat aku berantakan.