lomba cerpen tema : surat cinta untuk mantan
Ada hal yang lebih
menyakitkan dari kedua orang yang saling mencintai, namun harus saling
merelakan??? Saat kata "Mencintai
Tidak Harus Memiliki" begitu membebani. Adakah orang yang benar2
mampu melakukannya??? Saat “Harapan tidak
sesuai kenyataan”, mengapa menyisakan sesak teramat dalam???
Terlalu rumit untuk
menjabarkan jawaban dari semua pertanyaan. Ketika Aku dan kamu penuh
perjuangan untuk bersama, namun harus berakhir dengan kata saling “Merelakan”.
***
Malam
tepat diulang tahunmu. Aku putuskan menemuimu untuk merayakannya dicafe
favorite kita, sekaligus memutuskan hal yang begitu sulit aku katakan. Ya! Aku
berusaha mengakhiri kisah kita dan merelakan kamu dengannya... Bukan!
Bukan, aku tidak mencintaimu... Bukan pula karena aku tidak ingin
memperjuangkanmu... Ketahuilah ini demi kebaikan aku, kamu dan mereka....
Mereka? Ya... Rasya dan Lana. Priaku dan wanitamu. Kita berada dalam
hubungan yang tidak tepat, dimana aku dan kamu memiliki kekasih. Maka dari itu
aku putuskan mengakhiri hubungan kita demi mereka.
"Selamat
ulang tahun Gilang, terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini, semoga kamu
bahagia selalu, walaupun mungkin mulai saat ini, aku bukan alasan penyebab
bahagiamu". Dicafe favorite yang menjadi saksi awal cerita kebersamaan
kita, hingga akhirnya menjadi saksi kisah kita telah berakhir.
"Apa
maksud kamu Anin? Kamu tau benar, alasan kebahagianku. semua selalu tentang
kamu!.” Gilang memandangku dengan raut wajah kaget sambil memegang erat
tanganku, seakan takut kehilangan.
“
Maaf Gilang aku tidak bisa terus bertahan dalam ketidakjelasan hubungan kita,
aku tau ini sulit, tapi akan lebih sulit jika kita melanjutkan semua ini
bukan? Maaf untuk keputusan yang mengagetkan dan melukai perasaanmu.
Ketahuilah, selama hubungan ini terus dijalani, banyak hati yang tersakiti.
Maafkan aku Gilang" Aku coba menjelaskan.
Gilang hanya terdiam menatapku
yang secara perlahan pergi meninggalkan cafe. Dari kejauhan wajah Gilang
terlihat pucat tanpa ada gurat senyuman. Ada sakit yang tabisa kujelaskan, ada
sesak yang tak bisa ku perlihatkan. Aku coba pergi dengan sebuah senyuman, tapi
air mata mengalir tak tertahankan.
***
Saat itu, diujung persimpangan
jalan yang tidak jauh dari cafΓ©, seperti semesta ikut merasakan apa yang aku
rasakan, hujan turun dengan begitu lebat, aku terdiam menatap dan menikmati
hujan yang mulai membasahi seluruh tubuhku, air mataku mengalir bersamaan
dengan air hujan saar itu, aku tersentak seseorang memeluk tubuhku dari
belakang. Aku mencoba melepaskan pelukan itu.
“Anin
tolong, 1 menit saja biarkan tetap seperti ini." Terdengar suara Gilang
berbisik ditelingaku dengan penuh pengharapan. Aku hanya terdiam, tanpa memberi
jawaban.
“Haruskah
semua ini terjadi pada kita? Mengapa kamu lebih memperdulikan perasaan Rasya
dan Lana? Bagaimana dengan perasaanku Anin? Apa mencintai kamu harus sesakit
ini? Apa kamu begitu mencintai Rasya dibanding aku?" Gilang tanpa henti
berbicara dan mendekapku semakin kencang.
"Hentikan
Gilang! Tak bisakah Kamu mengertikan keadaan?"
"Tolong
bantu aku melepaskan semua tentang kita, semua ini terpaksa aku lakukan! Terpaksa
aku lakukan demi kita dan mereka! Ku mohon lang…”. Pintaku pada Gilang sambil
memandang matanya.
Gilang mengecup keningku dan
memelukku seraya berkata "Apa kamu akan bahagia tanpa aku disisimu? Apa
kamu sungguh merelakan hubungan kita berakhir seperti ini? Jika ya, aku akan
merelakan kamu dengannya dan terus memelukmu dengan doa2ku agar kamu
terus bahagia tanpa aku."
"Ya...
Tentu saja. Terimakasih Gilang dan berjanjilah kamupun akan terus berbahagia
tanpa aku.” Aku memandang wajahnya sambil mengelus kedua pipinya.
"Sebenarnya
tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini dari melihat orang yang aku
cintai hidup bahagia bersamaku!". Jawab Gilang akan pernyataanku.
Dihari
bertambah usianya, aku hanya bisa memberikan luka yang teramat dalam. Tak banyak hal yang bisa kulakukan,
hanya bisa terdiam dan menatap matanya yang penuh kekecewaan. aku mencintainya, tapi aku terpaksa harus
melepaskannya.
Itulah pertemuan terakhirku
dengan Gilang. Sejak Saat itu kita tidak pernah bertegur sapa, Aku bahagia
dengan Rasya kekasihku. Tapi tidak dengan Gilang, dia memutuskan pindah kerja
keluar kota dan mengakhiri hubungannya dengan Lana.
Setahun sudah aku tak mendengar
kabar Gilang, selama itupun aku merindukannya. Meskipun aku bahagia dengan
Rasya kekasihku, tapi bayangan tentang Gilang tak bisa terhindar.
***
Sore itu aku putuskan untuk
mencari tahu alamat baru Gilang dengan mendatangi teman kantornya, Aku tidak
ingin menghubungi dia melalui tellphone genggam, karena aku tak sanggup untuk
berkata dan mendengar suaranya.
Ya… rinduku menang. Aku tak
perduli apakah tindakanku memberikan surat cinta ini benar atau salah. Aku
tuangkan semua yang aku rasakan pada surat yang kutulis, dengan airmata dan
kerinduan yang begitu tak tertahankan, untuk dia! mantan yang penuh
pengorbanan.
Teruntuk
kamu yang menjadi bagian dalam kisahku....
Apa
kabar kamu? Masih Adakah namaku terukir dihatimu? Masih adakah namaku disetiap
do’amu? Rindukah akan kebersamaan kita? Jujur saja, aku merindukanmu. Bahkan
saat aku tertawa dengan kekasihku, aku merindukanmu!
Rindu ini begitu menusukku, hingga aku
tak sanggup menahannya. Aku terbiasa ada kamu disampingku, sulit untukku
melewati hari2 tanpa kamu, tapi aku berusaha meyakinkan diriku,
bahwa aku bisa melewati semua ini.
"lang… kamu masih ingat tentang kalimat yang
terakhir kamu ucapkan saat pertemuan satu tahun yang lalu?". Aku
baru tersadar begitu besar pengorbanan yang telah kamu lakukan untukku.
Kamu tau lang? setelah kupikir, kisah kita seperti inhibitor korosi dalam bidang kimia. Dimana
dalam proses inhibitor korosi, membiarkan dirinya mengalami kehancuran demi
melindungi sesuatu yang lebih berharga dari dirinya sendiri. Sama halnya dengan
kita. Kita rela sakit dan tersiksa, hanya untuk melindungi cinta kita agar tetap
hidup tenang dan bahagia dengan
siapapun kita terikat…
Terimakasih Gilang... Maaf sudah banyak
menyakiti, maaf akan janji yang tidak bisa aku tepati. Aku tidak akan
menyalahkan atas apa yang pernah terjadi diantara kita. Ya... tidak ada yang
salah dengan hubungan kita, hanya saja saat kita jatuh cinta tidak pada
waktu yang tepat. Berjanjilah untuk terus berbahagia walau tanpa aku
disampingmu. Simpanlah tangis dan tawa yang pernah kita lalui, simpanlah
dalam kenangan dan berbahagialah.
Terimakasih Gilang.. Kita mungkin saling
kehilangan dan dipaksa untuk saling merelakan untuk tidak saling bergenggaman.
Tapi kisah yang terjadi diantara kita, akan menjadi kenangan masalalu yang akan
diingat dimasa yang akan datang.
Surat
itu kutulis dan ku kirim dengan penuh keraguan. Aku takut saat dia menerima dan
membaca surat itu, aku menyakitinya sekali lagi. Tapi aku ingin dia tahu bahwa
aku masih sering merindukannya. Dan penyesalanku yang telah menyakitinya
teramat dalam, tanpa sempat aku ucapkan maaf dan selamat jalan.
Untukmu yang banyak berjuang
namun sayang berakhir dengan "merelakan"