Minggu, 01 Desember 2019

INHIBITOR KOROSI ??

Diposting oleh Renti Septianti di 06.19

lomba cerpen tema : surat cinta untuk mantan                                            

Ada hal yang lebih menyakitkan dari kedua orang yang saling mencintai, namun harus saling merelakan??? Saat kata "Mencintai Tidak Harus Memiliki" begitu membebani. Adakah orang yang benar2 mampu melakukannya??? Saat “Harapan tidak sesuai kenyataan”, mengapa menyisakan sesak teramat dalam???
Terlalu rumit untuk menjabarkan jawaban dari semua pertanyaan. Ketika Aku dan kamu  penuh perjuangan untuk bersama, namun harus berakhir dengan kata saling “Merelakan”.
***
            Malam tepat diulang tahunmu. Aku putuskan menemuimu untuk merayakannya dicafe favorite kita, sekaligus memutuskan hal yang begitu sulit aku katakan. Ya! Aku berusaha mengakhiri kisah kita dan merelakan kamu dengannya... Bukan! Bukan, aku tidak mencintaimu... Bukan pula karena aku tidak ingin memperjuangkanmu...  Ketahuilah ini demi kebaikan aku, kamu dan mereka.... Mereka? Ya...  Rasya dan Lana. Priaku dan wanitamu. Kita berada dalam hubungan yang tidak tepat, dimana aku dan kamu memiliki kekasih. Maka dari itu aku putuskan mengakhiri hubungan kita demi mereka. 
            "Selamat ulang tahun Gilang, terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini, semoga kamu bahagia selalu, walaupun mungkin mulai saat ini, aku bukan alasan penyebab bahagiamu". Dicafe favorite yang menjadi saksi awal cerita kebersamaan kita,  hingga akhirnya menjadi saksi kisah kita telah berakhir.
            "Apa maksud kamu Anin? Kamu tau benar, alasan kebahagianku. semua selalu tentang kamu!.” Gilang memandangku dengan raut wajah kaget sambil memegang erat tanganku, seakan takut kehilangan. 
            “ Maaf Gilang aku tidak bisa terus bertahan dalam ketidakjelasan hubungan kita, aku tau ini sulit, tapi akan lebih sulit jika kita melanjutkan semua ini bukan? Maaf untuk keputusan yang mengagetkan dan melukai perasaanmu. Ketahuilah, selama hubungan ini terus dijalani, banyak hati yang tersakiti. Maafkan aku Gilang" Aku coba menjelaskan.
Gilang hanya terdiam menatapku yang secara perlahan pergi meninggalkan cafe. Dari kejauhan wajah Gilang terlihat pucat tanpa ada gurat senyuman. Ada sakit yang tabisa kujelaskan, ada sesak yang tak bisa ku perlihatkan. Aku coba pergi dengan sebuah senyuman, tapi air mata mengalir tak tertahankan.
***
Saat itu, diujung persimpangan jalan yang tidak jauh dari café, seperti semesta ikut merasakan apa yang aku rasakan, hujan turun dengan begitu lebat, aku terdiam menatap dan menikmati hujan yang mulai membasahi seluruh tubuhku,  air mataku mengalir bersamaan dengan air hujan saar itu, aku tersentak seseorang memeluk tubuhku dari belakang. Aku mencoba melepaskan pelukan itu. 
            “Anin tolong, 1 menit saja biarkan tetap seperti ini." Terdengar suara Gilang berbisik ditelingaku dengan penuh pengharapan. Aku hanya terdiam, tanpa memberi jawaban. 
            “Haruskah semua ini terjadi pada kita? Mengapa kamu lebih memperdulikan perasaan Rasya dan Lana? Bagaimana dengan perasaanku Anin? Apa mencintai kamu harus sesakit ini? Apa kamu begitu mencintai Rasya dibanding aku?" Gilang tanpa henti berbicara dan mendekapku semakin kencang. 
            "Hentikan Gilang! Tak bisakah Kamu mengertikan keadaan?"
            "Tolong bantu aku melepaskan semua tentang kita, semua ini terpaksa aku lakukan! Terpaksa aku lakukan demi kita dan mereka! Ku mohon lang…”. Pintaku pada Gilang sambil memandang matanya.
Gilang mengecup keningku dan memelukku seraya berkata "Apa kamu akan bahagia tanpa aku disisimu? Apa kamu sungguh merelakan hubungan kita berakhir seperti ini? Jika ya, aku akan merelakan kamu dengannya dan terus memelukmu dengan doa2ku agar kamu terus bahagia tanpa aku."
            "Ya... Tentu saja. Terimakasih Gilang dan berjanjilah kamupun akan terus berbahagia tanpa aku.” Aku memandang wajahnya sambil mengelus kedua pipinya.
            "Sebenarnya tidak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini dari melihat orang yang aku cintai hidup bahagia bersamaku!". Jawab Gilang akan pernyataanku. 
Dihari bertambah usianya, aku hanya bisa memberikan luka yang teramat dalam. Tak banyak hal yang bisa kulakukan, hanya bisa terdiam dan menatap matanya yang penuh kekecewaan. aku mencintainya, tapi aku terpaksa harus melepaskannya.
Itulah pertemuan terakhirku dengan Gilang. Sejak Saat itu kita tidak pernah bertegur sapa, Aku bahagia dengan Rasya kekasihku. Tapi tidak dengan Gilang, dia memutuskan pindah kerja keluar kota dan mengakhiri hubungannya dengan Lana.
Setahun sudah aku tak mendengar kabar Gilang, selama itupun aku merindukannya. Meskipun aku bahagia dengan Rasya kekasihku, tapi bayangan tentang Gilang tak bisa terhindar.
***
Sore itu aku putuskan untuk mencari tahu alamat baru Gilang dengan mendatangi teman kantornya, Aku tidak ingin menghubungi dia melalui tellphone genggam, karena aku tak sanggup untuk berkata dan mendengar suaranya.
Ya… rinduku menang. Aku tak perduli apakah tindakanku memberikan surat cinta ini benar atau salah. Aku tuangkan semua yang aku rasakan pada surat yang kutulis, dengan airmata dan kerinduan yang begitu tak tertahankan, untuk dia! mantan yang penuh pengorbanan. 
             Teruntuk kamu yang menjadi bagian dalam kisahku.... 
          Apa kabar kamu? Masih Adakah namaku terukir dihatimu? Masih adakah namaku disetiap do’amu? Rindukah akan kebersamaan kita? Jujur saja, aku merindukanmu. Bahkan saat aku tertawa dengan kekasihku, aku merindukanmu!
            Rindu ini begitu menusukku, hingga aku tak sanggup menahannya. Aku terbiasa ada kamu disampingku, sulit untukku melewati hari2 tanpa kamu, tapi aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa aku bisa melewati semua ini.
          "lang… kamu masih ingat tentang kalimat yang terakhir kamu ucapkan saat pertemuan satu tahun yang lalu?". Aku baru tersadar begitu besar pengorbanan yang telah kamu lakukan untukku. 
Kamu tau lang? setelah kupikir, kisah kita seperti inhibitor korosi dalam bidang kimia. Dimana dalam proses inhibitor korosi, membiarkan dirinya mengalami kehancuran demi melindungi sesuatu yang lebih berharga dari dirinya sendiri. Sama halnya dengan kita. Kita rela sakit dan tersiksa, hanya untuk melindungi cinta kita agar tetap hidup tenang dan bahagia dengan siapapun kita terikat
Terimakasih Gilang... Maaf sudah banyak menyakiti, maaf akan janji yang tidak bisa aku tepati. Aku tidak akan menyalahkan atas apa yang pernah terjadi diantara kita. Ya... tidak ada yang salah dengan hubungan kita,  hanya saja saat kita jatuh cinta tidak pada waktu yang tepat. Berjanjilah untuk terus berbahagia walau tanpa aku disampingmu. Simpanlah tangis dan tawa yang pernah kita lalui,  simpanlah dalam kenangan dan berbahagialah.
Terimakasih Gilang.. Kita mungkin saling kehilangan dan dipaksa untuk saling merelakan untuk tidak saling bergenggaman. Tapi kisah yang terjadi diantara kita, akan menjadi kenangan masalalu yang akan diingat dimasa yang akan datang
            Surat itu kutulis dan ku kirim dengan penuh keraguan. Aku takut saat dia menerima dan membaca surat itu, aku menyakitinya sekali lagi. Tapi aku ingin dia tahu bahwa aku masih sering merindukannya. Dan penyesalanku yang telah menyakitinya teramat dalam, tanpa sempat aku ucapkan maaf dan selamat jalan.
Untukmu yang banyak berjuang
namun sayang berakhir dengan "merelakan"
                                                                                                         Sukabumi. August 22, 2017
jangan lupa follow : @rentiseptianti
dan tap link ini juga ya...hihi https://youtu.be/mxUoOlm4Mrk


 

Renti's Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review